Tuesday, 7 October 2014

hampa

beberapa minggu terakhir rasanya nyesek banget, sumpek, hopeless...
banyak target tidak dapat terpenuhi dan proses menuju target pun terseok-seok...
alhasil menyurutkan semangat juang...
dan parahnya berpengaruh ke ibadah... fiuh...

sholat tidak konsentrasi sama sekali,
bagaikan robot yang diprogram 5x sehari melakukan gerakan-gerakan sholat.
kosong. hampa.
berdoa?
rasanya saya malu untuk berdoa kepadaNya
bagaimana saya tidak malu, menengadahkan tangan meminta padaNya
padahal ritual perjumpaan dengannya saja saya loyo dan males-malesan

setiap sabtu rutin ikut tafakur atau pengajian di bandung,
biasanya setelah seminggu sumpek dengan aktivitas kuliah
selalu menanti-nanti sabtu pagi untuk mengcharge rohani,
3 minggu terakhir justru dengan mudahnya meninggalkannya...
sudah sampai loh di bandung, tapi akhirnya membelokkan niat
niat awal pengajian justru berujung pada belanja di pasar baru

DBAS alias Dunia Bahagia, Akhirat Surga
itulah tujuan yang ingin dicapai,
tetapi belakangan justru DBAS saya terganggu

sabtu kemarin saya kembali hadir dalam pengajian,
rasanya ngena sekali materinya atau kadang kalimat-kalimat yang disampaikan...

"kenapa Allah ngasih cobaan yang tiada putus-putusnya ya? karena Dia tahu kamu yang kuat ngadapi ujian itu. Allah nggak pernah menguji hambaNya melebihi batas kemampuannya. dan ingat, Dia nggak pernah mendzalimi hambaNya. ujian yang datang untuk menghebatkan hambaNya. ujian itu sepaket dengan hikmah. jadi bersabarlah."

melupakan jika urusan hasil itu urusan Dia,
urusan kita adalah prosesnya...
sayangnya, seringkali kita tidak mampu menjalankan proses tsb dengan baik
yang kemudian justru mengoyak DBAS yang ada.


SEMANGAT!!! Allah beserta hamba-hambanya yang sabar. 

Sunday, 28 September 2014

bertahan atau bercerai

Banyaknya kasus perceraian yang terjadi dikalangan artis, terutama belakangan ini  justru artis-artis yang telah menikah belasan bahkan puluhan tahun akhirnya memilih untuk bercerai. dan sedihnya, mereka yang dulu mencintai satu sama lain justru saling mengumbar keburukan pasangan masing-masing di media. yang membuat saya heran, kenapa diusia pernikahan yang bisa dibilang tidak sebentar tersebut mereka memutuskan bercerai? apalagi yang mereka cari?

Berawal dari fenomena diatas, saya ingin membagi kisah orangtua saya, semoga bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya. sebelumnya, mohon maaf jika ada yang tidak sependapat dengan saya. ini murni hanya ingin membagi pengalaman pribadi saya dengan orangtua.

Bapak dan ibu saya di awal pernikahan mereka memutuskan merantau, dari desa kecil di jawa timur menuju pulau kalimantan. tujuannya tentu saja mencari penghidupan yang lebih baik ditanah rantau. bersama-sama membangun istana untuk keluarga kecil mereka dari nol dan akhirnya bisa menjadi keluarga yaaah bisa dibilang berada lah untuk saat itu secara materi. sudah mempunyai rumah sendiri dengan perabotan-perabotan yang bisa dibilang mewah, mobil dan seorang anak yang sangat disayangi (yaitu saya).

Bapak seorang polisi dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. hingga akhirnya bapak dipindah tugaskan ke luar kota, ya kurang lebih perjalanannya memakan waktu tiga jam. akhirnya bapak menetap di sana tanpa saya dan ibu yang masih tetap dirumah. yaah bisa dibilang Long Distance Married, sebulan sekali bapak pulang.

Kehidupan harmonis kedua orangtua saya makin lama memudar. hingga akhirnya, saya sering melihat kedua orangtua saya bertengkar. usut punya usut, tidak kuat tinggal jauh dari istri, bapak memilih menikah lagi dengan perempuan lain di kota tempatnya bertugas tanpa ijin ibu saya. pelan-pelan harta yang telah dikumpulkan selama ini pun habis. habis untuk diberikan kepada istri muda bapak. yaah bisa dibilang keluarga kami mengalami kebangkrutan. rumah kami pun mengalami musibah kebakaran. kami pindah rumah, menyewa rumah dan tanah untuk dijadikan usaha berjualan kayu dan membuka warung kecil.

Bapak masih jarang pulang karena memang pekerjaan beliau. sebulan sekali bapak sempatkan pulang tetapi begitunya pulang justru bertengkar dengan ibu. saya yang masih kecil saat itu sudah terbiasa melihat pertengkaran mereka. hingga pada suatu haru, ibu saya mengusir bapak saya dari rumah karena merasa di khianati. hasil kerja keras bersama selama ini justru dihabiskan dengan istri muda bapak. saya tahu sekali ibu saya sedih sekaligus kecewa dikhianati orang tercintanya.

selepas kejadian tersebut, bapak tetap pulang sebulan sekali untuk menengok saya dan memenuhi kewajibannya sebagai suami dan ayah. bapak tetap memberi nafkah meskipun ibu saya memulai usahanya sendiri. hingga akhirnya tahun berganti tahun, hubungan bapak dan ibu saya membaik. membaik disini dalam artian, mereka tidak bertengkar lagi tetapi tidak sebahagia ataupun seharmonis dulu. terkesan hanya melakukan tanggung jawab mereka sebagai orangtua. bapak saya tetap menafkahi tanpa diminta oleh ibu dan ibu saya tetap melayani keperluan bapak setiap bapak dirumah. tapi rasanya dingin dan formalitas semata.

Bapak saya semakin sering pulang, yang dulunya sebulan sekali menjadi seminggu sekali dan karena bapak belakangan sakit, bapak memutuskan untuk pensiun dini dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah kami (saya dan ibu) dibandingkan rumah istri mudanya. bapak saya mengajari ibu saya untuk memutar uangnya dengan cara berinvestasi seperti tanah dan mobil. mereka lebih pantas disebut patner kerja. ibu saya menginvestasikan uang dari usahanya sesuai dengan saran bapak. saya merasa itulah cara bapak menebus kesalahannya kepada ibu.

Bisa dibilang saya tidak pernah kekurangan kasih sayang dari ibu ataupun bapak saya. meskipun di waktu kecil saya sering melihat kedua orangtua saya bertengkar, tapi mereka tetap bisa menjadi patner yang baik satu sama lain meskipun tidak penuh cinta seperti dulu. bapak pun pelan-pelan mengenalkan saya dengan anaknya yang lain. mengajarkan saya untuk menerima meskipun kami berbeda ibu. meskipun saya tahu, ibu belum menerima kehadiran perempuan lain dalam kehidupan bapak tetapi bapak mencoba mengajarkan itu pada anak-anaknya. yah minimal anak-anaknya akur satu sama lain.

Saya bersyukur kepada bapak dan ibu karena mereka tidak memutuskan untuk bercerai. berterimakasih kepada bapak karena memberikan cinta yang sama kepada semua anak dan istrinya. berterimakasih kepada ibu karena melupakan rasa sakitnya dikhianati bapak demi melihat anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan figur seorang bapak. ibu saya seorang yang kuat dan mandiri, bisa dibilang jika mengikuti egonya, ibu tentu saja memilih bercerai, toh dia sanggup menghidupi anak-anaknya tapi beliau ingat akan anak-anaknya. memikirkan dampaknya bagi anak-anaknya jika dia memutuskan untuk bercerai.

Hingga akhirnya bapak terkena stroke dan masuk rumah sakit. kedua istri bapak berkumpul menemani beliau yang dalam keadaan koma. kami anak-anaknya berkumpul saling mensupport satu sama lain. dan ternyata sudah waktunya bapak harus pergi. pergi selamanya dengan tenang. dengan senyuman manis diakhir hayatnya karena melihat semua istrinya berkumpul dan rukun. dan saat itulah saya tahu, ibu merasa kehilangan yang sangat mendalam. saya tahu, cinta ibu saya kepada bapak tidaklah hilang. dia hanya menyimpannya, tidak menunjukkannya karena rasa sakitnya. karena cinta. yaa tentu saja karena cinta ibu bertahan. karena cinta pada bapak. karena cinta pada anak-anaknya.

semoga keluarga lain yang sedang memikirkan untuk bercerai ataupun yang sedang membangun keluarga mereka untuk selalu mengingat tujuan awal mereka menikah. alasan kenapa mereka memilih saling mencintai satu sama lain dan tentunya, ingatlah buah hati yang sebenarnya bisa menjadi alasan mereka untuk tetap bersama dan memaafkan satu sama lain. karena manusia tak pernah sempurna :)


*repost tulisan saya di blog sekolah pernikahan setahun silam (11 sept 2013).
semoga tidak banyak yang berkomentar "nangis" seperti tahun lalu hehehe. 

Saturday, 20 September 2014

me and skin care

akhirnya saya memasuki fase ini, fase ketika seorang perempuan mulai memperhatikan berbagai macam yang muncul di wajahnya saat ini seperti kerutan halus, flek hitam, warna yang tak rata ataupun pori-pori yang besar hahahaha. ribet yaa jadi wanitaaah itu hehehe. kalau jerawat mah udah dari jaman abegeh diperhatikan :D

nah belakangan tetiba jadi aware banget sama si muka yang emang bisa dibilang cukup terabaikan. sehari-hari cuma pake facial wash doank. dulu awal-awal esdua masih rajin pke sunblock, gegara ditegur sama mamanya teman pas lagi nginap dirumahnya :D

jadi si mamanya teman ini udah usia 50-an tapi masih keliatan muda dan body juga baguslah. because dese rajin olahraga kayak badminton n aerobic cyin, trus rajin juga ke klinik kecantikan gitu. jadi pas nginep dirumahnya, pagi-pagi pas bangun kagetlah lihat dese baru pulang dengan banyak totol krim dimukanya, ternyata habis dari klinik. pas lagi sarapan bareng gitu, dese ngeliatin muka saya trus ditanya deh "dek, pakai krim apa biasanya?", dengan lempeng saya jawab "nggak pake krim apa-apa tante :D"

habislah saya dengan diceramahi perlunya merawat wajah dari selagi muda, biar pas tua perawatannya nggak ribet. ya minimal kata dese pake sunblock, biar pas umur berapa nggak keluar tuh flek-flek hitam dan teman-temannya. yawes saya iya-iyain ajalah, emang ada benernya juga sih hehehe.

tahu kenapa saya males pake krim-kriman begitu?
saya suka main air, sedikit-sedikit ke kamar mandi jadilah krim-nya ilang kena air n males lagi ngoles-ngoles n ngerasa mubazir....
alasan utamanya adalah dulu pernah nggak cocok sama salah satu produk yg bikin muka kayak pizza jerawat -__-" udah parah banget, susah ngobatinnya, begitu udah ilang jerawatnya muncul masalah lain, yaaa bekas jerawat... huhuhuhu.

begitu si jerawat bisa lenyap dari muka (muncul beberapa pas tamu bulanan, wajar kan) dan cocok pake salah satu facial wash, jadilah saya pertahanin dah. nggak berani nyoba-nyoba pke facial wash lain n pke krim-krim yang belum tentu cocok karena muka saya ini termasuk tipe kombinasi n sensitif juga sama bahan-bahan tertentu (yang saya nggak tahu, sensitifnya sama kandungan apa gitu di kosmetik, tahunya yaa sensitif).

setelah diceramahin tentang sunblock tadi, akhirnya beli sunblock dah di apotik. tahunya dari dokter yang nyaranin sunblock merk itu, kemudian ada temen juga yang sehari-hari pake. eh ternyata cocok-cocok aja. daaaan setelah sunblocknya habis, beli lagi (sudah sisa setengah kayaknya) udah males lagi makenya karena sering keburu-keburu ngampusnya jadinya udah nggak ada waktu make begituan.

beberapa minggu lalu pas lagi ngaca kaget dengan flek diwajah, huwaaaaaa...akhirnya membulatkan tekad untuk mulai melirik skin care. yang awalnya cuma pake facial wash, mulai nambah produk buat ngebersihin mukanya, pake milk cleanser n toner. sempet nyobain pre-serum salah satu produk yang lumayan mehong huhuhuhu. bagus sih. 

bertahap mulai memikirkan kudu pake krim apa ya buat day cream n night creamnya. daaaan apa yang ditakutkan terjadi,, baru sekali pake day cream, langsung aja si jeriwi menyerbu -__-" padahal udah beres tamu bulanannya. trus pake night cream dan sama aja huhuhuhu. banyak yg bilang maybe itu purging atau reaksi awal doank sama krimnya, diteruskan aja. tapi saya cukup trauma karena dulu muka udah ancur lebur gegara jerawat dan susah buat ngilanginnya. tapi koq ya krimnya nggak dibuang lagi padahal lumayan mehong.

ya diantara dilema skin care ini, coba buat meneruskan sekuat saya. jeriwi2nya sih sedikit, nggak kayak jaman SMA dulu. tapi kalau emang udah beberapa minggu kedepan nggak ada perubahan sepertinya harus rela stop dan say gudbye sama tu krim-krim yang baru dibeli.

Wednesday, 17 September 2014

pelajaran dari my mom

my mom selalu ngajarin buat berbaik sama orang lain, meskipun orang itu udah ngejahatin kita. yang penting kita nggak jahat, kayak orang itu.

my mom percaya perbuatan apapun pasti ada balasan. kalau pengen dapat balasan yang baik, ya berbuat baiklah. meskipun balasan baik itu kadang nggak langsung ke kita, tapi bisa juga ke keluarga or anak-anak kita nanti.

kadang ngerasa banyak orang yang nolongin pas kita butuh, dari mulai yang kecil sampai yang besar. kayak ngasih tumpangan, nraktir makan pas lagi bokek sampai pernah lagi butuh uang 10juta buat bayar SPP, saat itu juga ada teman yang langsung transfer.

kalau di flashback biasanya karena kita biasanya berbuat baik ke orang dan bisa juga itu akibat perbuatan baik orangtua kita juga loh. my mom pernah bilang, dia berusaha bantu orang sebisa dia biar anaknya pas jauh kayak gini ditanah rantau ada juga yang bantu or nolongin.

terus kalo orang yang pernah kita bantu, justru sebaliknya ke kita? udah biarin aja ya. pernah loh dulu ada teman seperjuangan jaman skripsi. ketika yang lain udah mulai jalan skripsinya, dia baru aja mau mulai. kami bantuin dah dari mulai nyariin referensi n ngerevisi draftnya, kasih strategi juga gimana ngatur waktunya. eh nggak tahunya dia lulus duluan sambil ngecibir kami "ih ternyata para asisten lab yang pintar-pintar ini nggak jaminan ya lulus cepat. malah aku duluan yang lulus."

sumfeee begitu tahu dia lulus dengan songongnya, sebel iya. sebel banget malah. tapi biarin aja lah. toh berbuat baik sama orang insyaa allah dapat pahala. nah yang suka kek gini juga dapat balasannya koq, nggak tahu dah apa, biarin urusannya ma Allah.

so, mari berbuat baik kepada siapa saja :)

yuk mari cantik, kita antri yaa

kemarin sore lagi berburu krim malam di salah satu supermarket yg emang selalu terjadi antrian panjang di kasirnya. yaa karena cuma empat sih kassa nya. jadinya yaa mau gimana lagi, lagi butuh krimnya dan mau nggak mau antri. 

kebetulan dapat antrian ke-lima. di paling depan ada mahasiswa malay bertiga yang sepertinya belanja bulanan dan beli sayur buat dimasak dan itu perorang banyak belanjaannya. setelah itu hot momma yang ngantri didepan saya dengan trolly yang penuh isi kebutuhan rumah tangga. sedangkan saya dengan sekotak krim malam ditangan hehehe.

niat mau pindah antrian yang lebih pendek tapi koq sama aja yaa *menatap kassa lainnya*, yaa kali panjang antriannya tapi belanjaannya dikit kayak saya kan lumayan cepet. tapi ya udah ngantri disini aja, pikir saya.

begitu hampir selesai antrian ketiga (mahasiswa malay), hp si mahmud alias mamah muda depan saya bunyi jadilah dia ngantri sambil sibuk telponan, kayaknya sih suaminya *nguping tak sengaja hahaha*. begitu gilirannya, saya yang lagi mainin kaki dilantai *bosen maksudx* dipanggil si mahmud buat duluan aja. waaaah dengan senang hati saya maju, lagian kan saya cuma beli satu barang aja jadi cepet. makasih yaaa mahmud :D

dan saya teringat seringkali ketika di supermarket  yang sama, pernah pas lagi antri ada ibu-ibu yang mepet antrian dan nyuruh anaknya maju duluan alias motong antrian -___-" sumfee sebel banget manfaatin anak. berhubung juga nggak buru-buru dan habis lihat si ibu di marahin suaminya (jadi si suami minta air mineral yg dingin buat buka puasa), ya udah pas gilliran saya (anaknya didepan, tapi ibunya dibelakang saya), dengan muka baik hati (dipaksain sih hahaha) bilang ke ibu "silahkan bu, duluan aja", langsung dengan semangat si ibu maju. mikir juga sih, ntar keburu dimarahin suaminya lagi airnya sudah nggak dingin lagi gegara antri. yoweslah. ikhlaaaasin aja antriaaaannya ya cyin (koq kayak nggak ikhlas sih).

dan ternyata dapat balasannya kemarin sore, dipersilahkan duluan :D

nah tempat lain yang paling sering main serobot antrian adalah di ATM centre, sudah antri lama eh ada aja yang motong antrian,. baru juga datang trus kayak seolah nggak tahu kalau yang panjang ini antrian dan main potong aja dengan muka songong *biasanya mahasiswa yang kek begini!*

kalau lagi "baik" saya biarin aja, tapi kalau lagi ada energi buat nunjukkin "antri donnng!" saya biasanya langsung maju mepet ke mesin ATMnya sebelum si pemotong antrian itu maju. nggak kalah gesit. sambil ngedumel "cantik-cantik koq sukanya nyelonong aja, antri dong biar makin cantik" hahahahaha.

kadang sadar diri sih, misal perlu transfer dan ngurus apa gitu yang bikin lama di ATMnya, jadi emang kadang mempersilahkan antrian dibelakang buat duluan aja. tapi ada juga loh orang yang nggak nyadar kalau antrian panjang, bukannya buruan malah lama depan mesin ATMnya. udah beres transaksinya juga nggak langsung minggir tapi malah sibuk baca pesan di Hp-nya n masukin uang n kartu ATMnya ke dompet. 

jadi emang kadang kita perlu budayakan antri yak sedari kecil, jangan ajari anak or adik kita buat motong antrian! terus juga kudu bisa lihat sikon, kalau emang ada orang yang lagi keburu-buru or kitanya emang lama keperluannya, bisa tuker posisi antriannya. nggak bikin rugi kita koq, malah kadang itu juga bentuk bantuan kita ke orang lain. seperti tadi, bantuin si ibu biar nggak kena marah suaminya karena airnya sudah nggak dingin lagi efek kelamaan antri. terkadang kamu juga dapat ngerasain balasannya koq, misal ketika kamu buru-buru eh ada orang yang ngasih antriannya ke dirimu.

kelebihan dan kekurangan itu saling melengkapi

pernah nggak sih kita ngerasa bahwa orang lain itu koq jalannyaaaa muluuuuuus banget, sedangkan kita kudu terseok-seok mencapai tujuan kita? ya dengan kata lain, kita berusaha mati-matian tapi hasilnya biasa aja, sedangkan orang lain "sepertinya" nyantai tapi hasilnya memuaskan.

saya pernah, sering malah hehehe. seperti biasa urip iku sawang sinawang

pernah denger dong bahwa Tuhan itu menciptakan manusia itu sama, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.  dan Tuhan itu selalu adil dan tidak pernah menganiaya hambanya. ada yang dengan mudah kita dapatkan, tapi disisi lain perlu perjuangan untuk mendapatkannya.

ceritanya begini,
seorang sahabat yang perjalanan kuliahnya menurut saya lancaaaar kayak jalan tol dah. tidak ada mata kuliah yang ngulang, mayoritas nilai A didapat, dosen juga biasanya bersikap baik dengan baik (seperti ramah). yang kadang ketika diperhatikan, usaha yang dikeluarkannya biasa aja. justru terkesan mengeluarkan usaha minimal alias agak males-malesan. tapi kenapa muluuuuuus perjalanannya ya? itu yang mungkin menurut kacamata manusia yang dianggap tidak adil,.. mereka yang berusaha lebih keras tapi kenapa si teman ini yang terkesan males justru hasilnya lebih baik.

ingat kembali, bahwa ketika diberikan kelebihan di satu sisi, maka ada kekurangan di sisi lain. Tuhan tidak melulu menguji hambanya dengan kesengsaraan koq, ada juga berupa ujian kenikmatan. ketika satu sisi kurang, sisi lainnya dilebihkan.

teman saya mungkin sedang diberikan kenikmatan dan kemudahan dalam menjalani kuliahnya. tapi di sisi lain dia diberikan ujian yang banyak orang tidak tahu jika tidak mengenalnya dengan baik. dia sebagai anak sulung dan jadi tulang punggung keluarga. membiayai kehidupan keluarganya seperti pengobatan ayahnya dan kuliah adiknya. gaji yang didapatnya itu harus ia alokasikan untuk 4 orang, dirinya, ibu dan ayahnya serta adiknya.

beban yang ditanggung bagi saya itu cukuplah berat *menurut kacamata saya*. karena saya sendiri masih belum dapat memenuhi kebutuhan saya pribadi, ketika pun saya sudah memiliki penghasilan rasanya untuk hidup di kota ini rasanya sangat pas-pasan untuk diri sendiri, apalagi harus dibagi empat, yang bukan sekedar pemenuhan kebutuhan sehari-hari tapi juga biaya berobat rutin dan biaya kuliah.

dan di usianya yang menurut masyarakat kita ini memasuki usia "kritis", dia belum bertemu dengan pendamping hidupnya. banyak yang mendekati tapi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan. sedangkan teman-teman sebaya-nya sudah banyak yang berumah tangga dan memiliki beberapa anak. tidak mudah kan.

cerita lainnya, seorang kenalan yang ternyata anak dari dosen dikampus. menurut saya dan teman-teman lainnya, dia anak yang pintar. ternyata sudah memiliki 2 anak. wow di usia muda begini sudah menemukan jodoh dan diberikan 2 momongan yang lucu. sempat bekerja dengan karir yang bagus tapi memilih melanjutkan kuliah. kuliah pun berjalan lancar, meskipun ada bisik-bisik bahwa dia dipermudah karena anaknya dosen. padahal dari yang saya amati, memang anaknya pintar dan kritis.

tapi banyak orang yang tidak tahu, bahwa dia sedang mengurus perceraian dengan suami yang berbeda usia 20 tahun lebih tua darinya. cerai karena sang suami suka bermain perempuan. saya pun kaget mendengar langsung dari dirinya. betapa tidak mudah menjadi dirinya, di usia muda dia memutuskan untuk menjadi janda daripada tersiksa lahir batin karena perilaku suaminya.

mungkin kita mengeluh karena di kuliah dipersulit, tapi sudahkah kita bersyukur bahwa di bagian kehidupan lainnya seperti keluarga kita harmonis, orangtua masih lengkap, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi bahkan berlimpah dan mungkin di usia yang relatif muda sudah bertemu dengan jodohnya.

memang kita tidak boleh hanya melihat dari satu sisi, lihatlah sisi lainnya. dengan begitu akan tahu bahwa Tuhan itu maha adil, hanya kitalah manusia yang justru sibuk iri dengan kelebihan orang lain dan lupa bersyukur dengan kelebihan yang diberikan kepada kita. dan janganlah menilai orang dari luarnya, coba kenali baik-baik, ada sisi lainnya yang mungkin bisa mengubah rasa iri kita menjadi bersyukur dengan kondisi yang kita nikmati dan miliki sekarang.

Thursday, 11 September 2014

kehilangan...

apa ketakutan terbesarmu?
ketakutan terbesar saya adalah kehilangan.
iya. kehilangan mereka yang disayang.
orangtua.

sejak kecil, ketika melihat film yang adegannya orangtua meninggal
saya tidak kalah heboh nangisnya sama sang bintang film.
pikir saya waktu itu, jika mereka tidak ada, bagaimana nasib saya.
dan saya pernah bilang dengan lugunya ke ibu saya
"jangan mati ya"

tetapi sesuatu yang belum terjadi itu memang menjadi ketakutan tersendiri
menimbulkan kecemasan yang membuat dada kita rasanya sesak
airmata selalu menerobos keluar dengan derasnya

pada saat saya ditelpon dikabari bahwa Ayah saya kena stroke
saya menangis sejadi-jadinya berhari-hari
sudah tidak jelas bentuk wajah saya dengan mata membengkak
mencoba tenang, kemudian menangis kembali dan seterusnya

ada bayang-bayang kematian menghantui pikiran saya saat itu
bagaimana jika memang waktu Ayah saya sudah dekat
entahlah, saya sulit sekali membayangkan hidup saya tanpa beliau

hingga akhirnya saya harus pulang disaat UTS,
untuk menemani Ayah yang sedang koma dan kritis.
serba mendadak semuanya, hingga dibandara pun saya masih menangis

saya adalah orang yang cengeng
dan saat itu saya berusaha menyimpan rapat-rapat kesedihan dan airmata saya
didepan Ibu tentunya
saya tak ingin membuatmu semakin sedih

dan memang saya terlihat tenang
mendampingi Ayah setiap saat dengan mengajaknya berbicara meskipun sedang koma
"ngaji dulu ya",
"ayo kita dzikir pagi dulu",
"aku sholat dulu yaa di atas, nanti habis itu ngaji bareng ya"

hingga akhirnya pada malam itu dada terasa sesak sekali,
membaca alquran pun dibanjiri airmata, entahlah...
saya keluar dari pintu samping dan menangis diparkiran

saya masih belum bisa tenang, airmata masih saya menerobos keluar dengan gilanya
akhirnya saya wudhu dan sholat isya di musholla rumah sakit
sholat sambil menangis lebih tepatnya, entahlah
saya hanya merasa hanya Allah lah yang mampu menenangkan saya malam itu

sebuah doa pun meluncur dari saya
tidak seperti doa yang sebelum-sebelumnya
yang meminta kesembuhan Ayah saya

saya minta ketika keputusan Allah itu tidak sesuai dengan keinginan saya,
saya minta Allah untuk bantu saya untuk ikhlas
keyakinan saya saat itu Allah lah yang tahu yang terbaik buat hambanya
dia tidak menganiaya hambanya

dan ketika esok paginya Ayahanda kembali ke sisi Allah
tidak ada airmata yang menerobos keluar dengan liar
yang muncul adalah ketenangan dan syukur
syukur karena di hari terakhirnya, wajah Ayah tersenyum
tenang rasanya melihat senyumnya

ketika keluarga menangis sejadi-jadinya
saya diberikan kekuatan untuk tetap tenang dan dapat memandikan jenazahnya
ketika teman-teman saya yang lain perlu waktu hingga berbulan-bulan
untuk dapat menerima kepergian orangtuanya
saya hari itu juga dapat menerima kepergian Ayah

hari senin ayah meninggal, rabu sore saya sudah kembali ke kosan
kamis pagi kuliah seperti biasa yang membuat teman-teman saya heran
heran karena saya tampak tenang dan ceria seperti biasa

ketika duduk disebelah jenazahnya, saya sebenarnya sempat menangis
bukan menangisi Ayah...
saat itu saya mendapat banyak sekali sms dari teman-teman kampus
yang mencoba menghibur dan menguatkan saya
saya menangis terharu karena mereka melakukannya
mereka pun melakukan sholat ghaib disana
terimakasih teman...

kadangkala kita mengira ketika kehilangan
yang akan terjadi adalah terpuruk dalam kesedihan
sedih memang, tapi sebenarnya kesedihan yang dialami tidak seperti yang kita bayangkan
kita masih memiliki kekuatan untuk menerima kehilangan tersebut
mungkin itulah keikhlasan

ketika teman-teman saya mungkin sungkan untuk membicarakan Ayah didepan saya
mereka tahu saya sangat dekat dengan ayah dan takut membuat saya sedih
saya justru dengan bahagia menceritakan masa-masa saya dengan Ayah dulu
dimana saya mengingatnya dan tidak mengganggapnya pergi,
karena sebenarnya ia selalu bersama saya,
dalam kenangan masa silam yang selalu saya hidupkan kembali dengan menceritakannya.


*kembali mengenangmu Ayah,
menjelang 5 tahun kepergianmu
I always love you... :)