Sunday, 28 September 2014

bertahan atau bercerai

Banyaknya kasus perceraian yang terjadi dikalangan artis, terutama belakangan ini  justru artis-artis yang telah menikah belasan bahkan puluhan tahun akhirnya memilih untuk bercerai. dan sedihnya, mereka yang dulu mencintai satu sama lain justru saling mengumbar keburukan pasangan masing-masing di media. yang membuat saya heran, kenapa diusia pernikahan yang bisa dibilang tidak sebentar tersebut mereka memutuskan bercerai? apalagi yang mereka cari?

Berawal dari fenomena diatas, saya ingin membagi kisah orangtua saya, semoga bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya. sebelumnya, mohon maaf jika ada yang tidak sependapat dengan saya. ini murni hanya ingin membagi pengalaman pribadi saya dengan orangtua.

Bapak dan ibu saya di awal pernikahan mereka memutuskan merantau, dari desa kecil di jawa timur menuju pulau kalimantan. tujuannya tentu saja mencari penghidupan yang lebih baik ditanah rantau. bersama-sama membangun istana untuk keluarga kecil mereka dari nol dan akhirnya bisa menjadi keluarga yaaah bisa dibilang berada lah untuk saat itu secara materi. sudah mempunyai rumah sendiri dengan perabotan-perabotan yang bisa dibilang mewah, mobil dan seorang anak yang sangat disayangi (yaitu saya).

Bapak seorang polisi dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. hingga akhirnya bapak dipindah tugaskan ke luar kota, ya kurang lebih perjalanannya memakan waktu tiga jam. akhirnya bapak menetap di sana tanpa saya dan ibu yang masih tetap dirumah. yaah bisa dibilang Long Distance Married, sebulan sekali bapak pulang.

Kehidupan harmonis kedua orangtua saya makin lama memudar. hingga akhirnya, saya sering melihat kedua orangtua saya bertengkar. usut punya usut, tidak kuat tinggal jauh dari istri, bapak memilih menikah lagi dengan perempuan lain di kota tempatnya bertugas tanpa ijin ibu saya. pelan-pelan harta yang telah dikumpulkan selama ini pun habis. habis untuk diberikan kepada istri muda bapak. yaah bisa dibilang keluarga kami mengalami kebangkrutan. rumah kami pun mengalami musibah kebakaran. kami pindah rumah, menyewa rumah dan tanah untuk dijadikan usaha berjualan kayu dan membuka warung kecil.

Bapak masih jarang pulang karena memang pekerjaan beliau. sebulan sekali bapak sempatkan pulang tetapi begitunya pulang justru bertengkar dengan ibu. saya yang masih kecil saat itu sudah terbiasa melihat pertengkaran mereka. hingga pada suatu haru, ibu saya mengusir bapak saya dari rumah karena merasa di khianati. hasil kerja keras bersama selama ini justru dihabiskan dengan istri muda bapak. saya tahu sekali ibu saya sedih sekaligus kecewa dikhianati orang tercintanya.

selepas kejadian tersebut, bapak tetap pulang sebulan sekali untuk menengok saya dan memenuhi kewajibannya sebagai suami dan ayah. bapak tetap memberi nafkah meskipun ibu saya memulai usahanya sendiri. hingga akhirnya tahun berganti tahun, hubungan bapak dan ibu saya membaik. membaik disini dalam artian, mereka tidak bertengkar lagi tetapi tidak sebahagia ataupun seharmonis dulu. terkesan hanya melakukan tanggung jawab mereka sebagai orangtua. bapak saya tetap menafkahi tanpa diminta oleh ibu dan ibu saya tetap melayani keperluan bapak setiap bapak dirumah. tapi rasanya dingin dan formalitas semata.

Bapak saya semakin sering pulang, yang dulunya sebulan sekali menjadi seminggu sekali dan karena bapak belakangan sakit, bapak memutuskan untuk pensiun dini dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah kami (saya dan ibu) dibandingkan rumah istri mudanya. bapak saya mengajari ibu saya untuk memutar uangnya dengan cara berinvestasi seperti tanah dan mobil. mereka lebih pantas disebut patner kerja. ibu saya menginvestasikan uang dari usahanya sesuai dengan saran bapak. saya merasa itulah cara bapak menebus kesalahannya kepada ibu.

Bisa dibilang saya tidak pernah kekurangan kasih sayang dari ibu ataupun bapak saya. meskipun di waktu kecil saya sering melihat kedua orangtua saya bertengkar, tapi mereka tetap bisa menjadi patner yang baik satu sama lain meskipun tidak penuh cinta seperti dulu. bapak pun pelan-pelan mengenalkan saya dengan anaknya yang lain. mengajarkan saya untuk menerima meskipun kami berbeda ibu. meskipun saya tahu, ibu belum menerima kehadiran perempuan lain dalam kehidupan bapak tetapi bapak mencoba mengajarkan itu pada anak-anaknya. yah minimal anak-anaknya akur satu sama lain.

Saya bersyukur kepada bapak dan ibu karena mereka tidak memutuskan untuk bercerai. berterimakasih kepada bapak karena memberikan cinta yang sama kepada semua anak dan istrinya. berterimakasih kepada ibu karena melupakan rasa sakitnya dikhianati bapak demi melihat anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan figur seorang bapak. ibu saya seorang yang kuat dan mandiri, bisa dibilang jika mengikuti egonya, ibu tentu saja memilih bercerai, toh dia sanggup menghidupi anak-anaknya tapi beliau ingat akan anak-anaknya. memikirkan dampaknya bagi anak-anaknya jika dia memutuskan untuk bercerai.

Hingga akhirnya bapak terkena stroke dan masuk rumah sakit. kedua istri bapak berkumpul menemani beliau yang dalam keadaan koma. kami anak-anaknya berkumpul saling mensupport satu sama lain. dan ternyata sudah waktunya bapak harus pergi. pergi selamanya dengan tenang. dengan senyuman manis diakhir hayatnya karena melihat semua istrinya berkumpul dan rukun. dan saat itulah saya tahu, ibu merasa kehilangan yang sangat mendalam. saya tahu, cinta ibu saya kepada bapak tidaklah hilang. dia hanya menyimpannya, tidak menunjukkannya karena rasa sakitnya. karena cinta. yaa tentu saja karena cinta ibu bertahan. karena cinta pada bapak. karena cinta pada anak-anaknya.

semoga keluarga lain yang sedang memikirkan untuk bercerai ataupun yang sedang membangun keluarga mereka untuk selalu mengingat tujuan awal mereka menikah. alasan kenapa mereka memilih saling mencintai satu sama lain dan tentunya, ingatlah buah hati yang sebenarnya bisa menjadi alasan mereka untuk tetap bersama dan memaafkan satu sama lain. karena manusia tak pernah sempurna :)


*repost tulisan saya di blog sekolah pernikahan setahun silam (11 sept 2013).
semoga tidak banyak yang berkomentar "nangis" seperti tahun lalu hehehe. 

No comments:

Post a Comment