Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Saturday, 15 February 2014

gagal itu...

kegagalan itu sesuatu yang menakutkan bagi saya. kenapa? karena selama ini saya belum pernah merasakan apa itu gagal yang sebenarnya. dan ternyata belajar gagal itu perlu agar kita bisa menjadi kuat. karena kehidupan ini tidaklah mulus, ada lika liku yang harus dilewati dan terkadang perlu berhenti sejenak.

setelah saya amati perjalanan hidup saya selama ini, saya tak pernah merasakan kegagalan yang sebenarnya.
contoh: 
saya gagal menjadi yang terbaik dikelas, tapi saya ada diurutan kedua. 
saya gagal masuk SMA plus (asrama) tapi saya berhasil masuk SMAN 1.
saya gagal menjadi yang terbaik di fakultas, tapi saya ada diurutan keempat.

hal ini yang rupanya membuat saya mungkin lupa bersyukur dan kurang berusaha sekuat tenaga untuk bisa berhasil, untuk bisa menjadi yang pertama. dan ketika di awal S2 saya gagal di dua mata kuliah besar hal itu benar-benar membuat saya terpuruk. karena saya selama ini tidak pernah merasakan gagal.

tapi ada banyak pelajaran yang saya dapat ketika kegagalan itu menghampiri saya.

saya bisa melihat mereka yang peduli dan ada buat saya. mereka yang memeluk saya ketika kegagalan itu datang. mereka yang selalu support saya dan menguatkan saya ketika saya merasa menjadi orang terbodoh di dunia (bukan lebay loh ya, tapi saat itu saya merasakan hal itu).

saya tahu betapa berharganya waktu dan tak bisa diulangi kembali.

saya tahu Allah sayang sama saya. dia mengingatkan saya, untuk selalu bersyukur dan meminta kepadaNya. karena segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa campur tanganNya. tugas kita adalah berusaha dan berdoa.

mari ingat-ingat kembali apa yang membuat anda merasa terpuruk hari ini. 
apa karena selama ini kita sombong dan lupa berdoa kepada Dia? 
apa karena kita hanya meminta kepadaNya tapi tidak berusaha?
apa karena kita mudah berputus asa?
atau apa?

belajar dari kematian

entahlah, saya selalu suka menuliskan yang bertemakan kematian. karena dari kematian yang menimpa orang-orang sekitar ada banyak hikmah yang dibaliknya bagi kita yang ditinggalkan.

sekitar sebulan yang lalu, salah satu designer muslimah kehilangan sang suami. saya yang tidak begitu mengenal beliau tapi hanya sekedar tahu dari instagram saja merasakan kesedihan yang mendalam, apalagi beliau. si teteh geulis ini menikah bulan mei 2013 kemarin dan saat ini sedang hamil tua. suami si teteh meninggal awal tahun ini karena kecelakaan :( padahal sebelumnya baru aja babymoon bersama sang suami. nggak ada firasat apa-apa karena memang bukan sakit tapi kecelakaan. 

sekitar dua minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa adik tingkat saya jaman S1 dulu meninggal dunia karena kecelakaan dan hari itu juga hari ulang tahunnya.

memang kematian tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa menebak kapan diri ini dipanggil sang Maha Kuasa. 

tidak ada jaminan masih muda itu jatah hidupnya di dunia ini lama.

tidak ada jaminan pula mereka yang sekarang sehat walafiat masih bisa menghirup udara hingga esok hari.

tidak ada yang tahu bahwa hari lahir kita bisa jadi itu hari kematian kita juga.

karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, maka perlu untuk menyiapkan bekal agar kita selalu siap ketika malaikat maut datang menjemput.

selamat jalan wahai keluarga, sahabat dan orang-orang disekitar yang telah mendahului kami. semoga amal ibadah kalian diterima disisi Allah SWT. semoga kami yang masih diberi nikmat hidup ini bisa mengambil hikmah dari kematian yang terjadi. in syaa Allah kami akan menyusul kalian tapi tidak tahu kapan.

Friday, 24 January 2014

P.E.R.A.N.

memasuki 2014 ini harap-harap cemas melanda. karena bagi saya awal tahun ini begitu berat karena saya harus mengulang beberapa mata kuliah yang memang susah dan praktek kerja yang ditempuh di semester ini pun nggak kalah beratnya. tetapi ada satu hal yang saya yakini sebagai "peran" yang memang setiap orang menjalani "peran" masing-masing.
 
saya mencoba menikmati peran yang saya pegang saat ini yaitu menjadi "mahasiswa" lagi yang tenyata tidak semudah dan seindah yang dibayangkan. tidak seperti ketika S1 dulu yang menurut saya lebih mudah dan termasuk masa-masa berjaya saya. 

kemudian saya mencoba belajar berbisnis disela-sela aktivitas kuliah yang lumayan padat. berawal karena bingung untuk mencoba mandiri secara finasial. jika S1 dulu bisa ikut part-time dikampus sehingga lumayan untuk menambah untuk uang jajan atau tabungan. yaa akhirnya mencoba jualan di olshop dan banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sana. ini peran saya sebagai "pedagang olshop".

peran sahabat yang menjadi seorang istri dan ibu muda, sejujurnya saya iri melihat kebahagiaan sahabat saya tersebut. ketika kuliah S2, dia menikah, kemudian hamil. dan selesai sidang tesis, dia melahirkan. subhanallah, dia mendapat 2 gelar sekaligus... master dan ibu muda. TAPIIIII sebenarnya sahabat saya ini sedih karena harus long distance married dengan suaminya. jarak aceh-jogya harus memisahkan mereka dan ketika ada waktu libur digunakan suaminya sebaik-baiknya untuk berkumpul dengan keluarga meskipun hanya hitungan 2-3 hari.

semua orang sudah punya peran masing-masing, jadi tidak usah iri dengan peran orang lain yang sepertinya lebih menyenangkan dan bahagia, karena hidup itu sawang sinawang (cari sendiri artinya yak!). 

ketika peran ini usai, akan berganti dengan peran lainnya. saat ini mungkin kamu tidak menyenangi peranmu, tapi di peran berikutnya kamu akan merindukannya. meskipun peranmu saat ini mungkin dianggap sebagai suatu hal yang sangat menyedihkan dan sebagai suatu penderitaan, suatu hari nanti kamu akan bisa mengenangnya dengan tersenyum bahkan menertawakannya. selalu ada pelajaran dibalik peran yang kamu jalani. Dan ingat pula tidak semua orang bisa menikmati peran yang kamu jalani saat ini. 

ada yang menginginkan peran saya sebagai "mahasiswa S2" tapi karena terkendala biaya, sehingga beberapa teman pun harus menunda bahkan melupakan keinginan untuk mendapat peran tersebut.

Tetap semangat dan bersyukur.